Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Indonesia’

Have you ever been shocked by something foreign, only to realize later that the shocking thing actually exists much, much closer than you previously thought? Like being shocked by the news of a snake appearing in a toilet bowl somewhere in Papua, and thinking to yourself: “what a different place Papua is! We’re really coddled by modern luxury. I can’t imagine a snake suddenly appearing when I’m taking a crap. It must be the wilderness out there…” And then suddenly a few weeks later a friend sent you a picture of her toilet bowl, with a huge honking snake head peeking out from the water. A friend who lives in a posh urban house with good sanitation and electricity and technology and no wild jungles visible from the window.
Have you?

I just had a similar experience today. Only, instead of a snake (freakish, I admit, but it doesn’t shake your core belief or fundamental sense of self), it came in the form of FGM (female genital mutilation). It is something I learned from the pages of Cultural Anthropology textbook about African cultures. It is something I read in feminist books condemning the widespread African practice of it. It is something that shocked me when African victims made video testimonies. It is something I’m passionately, personally against. It is something shocking, outrageous, alien, foreign. It’s African.
Only it might not be so African as I thought.
Apparently the practice is not only alive in Indonesia (my own country, for crying out loud), it is very much alive and well and widely practiced and and and… accepted as a norm!
The snake has suddenly appeared in my living room!

There’s this article in (6-12 August 2011 edition, if you’re interested in reading the article and can get your hands on one) highlighting the practice of ‘female circumcision’ in Indonesia. And I just happen to be sitting in a hair salon, and I, in self-righteous shock, blurted out to my hairdresser, “Hah?? Sunat perempuan (female circumcision)?” And what did she say? (And her three other friends who happened to be around) “Oh yeah. Sure. Usually done together while piercing the baby girl’s ears (tindik).” Like talking about their daily menu!

So am I the only one being rendered speechless, slack-jawed, and reeling from this mind-boggling revelation? Or am I just not well-read/connected/updated enough?

I guess it’s the fact that FGM’s not such an ‘aboriginal’ concept after all that boggles me. (Or that Indonesia is not as ‘civilized’ (insert my culturally-tied definition of civilized here) as I thought. One or the other.)

I had further discussion with my hairdresser about it, including its ties with regional customs, religious beliefs, and local medical practices, but I’m not going to elaborate about it here because it’s too loaded. If anyone comments and asks about it maybe I’ll write some more (some time). For now, suffice it to say that I’m still tipsy and reeling from the culture shock.

Advertisements

Read Full Post »

Entah kenapa hari itu, common sense lagi ambil cuti: aku langsung naik saja taksi pertama yang berhenti, tanpa mengecek warnanya biru berlogo burung atau bukan.

Kalimat pertama yang si pak supir ucapkan, setelah tujuan ditentukan:
“Non, saya tanya ya, situ cines kan?”
“E? Maap pak, apa?”
“Cines? Cines, cines, itu loh, orang cina?”
“Ooo..hh, iya pak, kenapa?” Pertanyaannya sudah cukup aneh dan sangat terus terang, sistem pertahananku langsung naik…

Terus dia nyerocos tentang temannya (lebih tepat disebut mantan teman) di Bandung, seorang Chinese, yang banyak si bapak ini bantu saat masih di akademi militer.
“Kalo ada apa-apa dia itu minta bantunya ke saya lho” “Tapi terakhir ke Bandung, kok lagaknya acuh kayak ga kenal gitu lho” “Masa kayak begitu, padahal dulu sudah saya anggap keluarga sendiri”
Aku manggut-manggut dan mengerutkan kening sepantasnya di kursi belakang, tak tahu dia bisa lihat atau tidak. Defense mechanism full sekarang.

Pertanyaan selanjutnya: “Nah sekarang pertanyaan saya, apa semua orang cines itu begitu?”
Setelah menunjukkan sikap tidak setuju dan mengatakan bahwa temannya (ex-temannya) bukan karena Chinese jadi tidak tahu diri, tapi karena memang pada dasarnya tidak tahu diri, orang seperti itu jangan dianggap teman pak; aku agak lega karena kelihatannya si bapak puas dengan jawabanku.

Di tengah macetnya bunderan menuju perhentian bus, dia bertanya lagi, tentang politik kali ini.
“Kalau situ, nanti pemilu presiden, bakal milih siapa?”
(Alarm di kepala bilang, ‘hati-hati’)
“Wah, kalo saya sih, masih nunggu ya pak, kampanye mereka nanti ngomongnya apa.”
“Ah, kalo saya sih ya, jujur aja, udah nentuin pilihan langsung, pasti SBY.”
(Alarm berhenti, lumayan lega denger jawabannya.)
“Ya habis yang laen tuh ya, Prabowo dan Wiranto kan militer, bakal kacau jadinya.”

Tepat hari itu baru dikeluarkan pengumuman daftar harta cawapres, dengan Prabowo memiliki aset paling banyak sebesar 1.7 triliun rupiah. Si bapak bilang, “Ah nggak mungkin segitu.”
“Lebih banyak ya pak?”
“Ya kurang lahhh” (nadanya menguliahi anak SD) “Coba situ bayangin, kalau diperiksa lagi setahun ke depan dan kekayaannya cuma nambah sedikit, kan ga akan dicurigai, padahal sebenarnya lebih banyak tapi nggak kelihatan.”
Dan dia memberikan analogi karung yang seolah-olah gembung tapi isinya udara–saat karung itu benar-benar diisi emas, orang tak akan curiga.
“Menurut saya, asetnya yang saham itu juga tidak benar… pasti dia mbantu pengusaha terus dikasih saham kosong, begitu…”

Saat ini kecurigaan sudah berubah menjadi keheranan dan kekaguman pada si bapak supir taksi.

“Coba saya tanya, situ kerjanya di bidang apa?”
“Properti pak.”
“Nah coba pikir, kalau situ ada proyek bagus, terus JK yang pengusaha mau juga, dia bisa pakai kekuatan militer buat ambil dari tangan situ. Kan jadi situ yang rugi.”
“Ya iklan boleh bilang dia bantu rakyat kecil, tapi buktinya mana, malah kekayaannya yang nambah.”

Aku manggut-manggut. Mengiyakan. Sepanjang jalan, sepanjang 45 menit kemacetan jam bubar kantor di Jakarta, aku mendengarkan, manggut-manggut, dan belajar banyak tentang politik militer Indonesia.
Dari seorang supir taksi sederhana.
Yang ketajaman pikiran dan kehausan akan pengetahuannya lebih dalam daripada kebanyakan orang bergelar sarjana yang kukenal. Yang kecintaannya pada bangsa tidak membuatnya berpahit-pahit dalam kesulitan hidup. Yang dalam pekerjaannya mencari nafkah, membuat perubahan dalam hidup orang-orang yang ditemuinya. Salah satunya, aku.

Aku menanyakan namanya, kalaupun tidak akan pernah bertemu lagi, setidaknya untuk disimpan dalam hati.

Di manapun bapak sekarang, pak, semoga Tuhan pelihara selalu. Mari sama-sama berdoa semoga presiden baru nanti bisa membawa Indonesia lebih baik lagi.

Read Full Post »

Kalau orang Indonesia belum bisa (eksplorasi migas), biarin aja minyaknya diem dalam tanah!

Kwik Kian Gie, sebagaimana dikutip oleh Chatib Basri (tangan kanan Dr. Sri Mulyani, Menkeu Republik Indonesia) (maafkan untuk segala kesalahan dalam penulisan nama)

Kalau Indonesia masih sebegitu primitifnya, untuk selalu mencurigai setiap kucuran modal asing yang masuk, ngga heran negara tercinta ini ngga maju-maju… Exxon, BP, Itochu… bukan berarti perusahaan multinasional hanya memiliki motif mulia untuk melakukan eksplorasi di negara dunia ketiga. Ledakan pipa gas di Afrika (Shell), corporate IRresponsibility, dll. Tapi sikap seperti itu, bukankah termasuk fundamentalisme? Kesempitan pikiran, harga diri yang mengarah pada arogansi.

Tapi dunia semakin rata (mengutip Thomas Friedman), globalisasi membawa semua orang sebagai individual memiliki kekuatan untuk bersuara, berkreasi, dan mensabotase.

Siapa sebenarnya warganegara Indonesia? Pendatang dengan hati yang mencintai dan ingin memajukan Indonesia, ataukah anak bangsa yang dididik di luar negeri dan tidak lagi mencintai tanah air? Jawabannya terserah Anda. Toh di dunia global sekarang ini, kita semua adalah warganegara DUNIA.

Read Full Post »