Feeds:
Posts
Comments

Entah kenapa hari itu, common sense lagi ambil cuti: aku langsung naik saja taksi pertama yang berhenti, tanpa mengecek warnanya biru berlogo burung atau bukan.

Kalimat pertama yang si pak supir ucapkan, setelah tujuan ditentukan:
“Non, saya tanya ya, situ cines kan?”
“E? Maap pak, apa?”
“Cines? Cines, cines, itu loh, orang cina?”
“Ooo..hh, iya pak, kenapa?” Pertanyaannya sudah cukup aneh dan sangat terus terang, sistem pertahananku langsung naik…

Terus dia nyerocos tentang temannya (lebih tepat disebut mantan teman) di Bandung, seorang Chinese, yang banyak si bapak ini bantu saat masih di akademi militer.
“Kalo ada apa-apa dia itu minta bantunya ke saya lho” “Tapi terakhir ke Bandung, kok lagaknya acuh kayak ga kenal gitu lho” “Masa kayak begitu, padahal dulu sudah saya anggap keluarga sendiri”
Aku manggut-manggut dan mengerutkan kening sepantasnya di kursi belakang, tak tahu dia bisa lihat atau tidak. Defense mechanism full sekarang.

Pertanyaan selanjutnya: “Nah sekarang pertanyaan saya, apa semua orang cines itu begitu?”
Setelah menunjukkan sikap tidak setuju dan mengatakan bahwa temannya (ex-temannya) bukan karena Chinese jadi tidak tahu diri, tapi karena memang pada dasarnya tidak tahu diri, orang seperti itu jangan dianggap teman pak; aku agak lega karena kelihatannya si bapak puas dengan jawabanku.

Di tengah macetnya bunderan menuju perhentian bus, dia bertanya lagi, tentang politik kali ini.
“Kalau situ, nanti pemilu presiden, bakal milih siapa?”
(Alarm di kepala bilang, ‘hati-hati’)
“Wah, kalo saya sih, masih nunggu ya pak, kampanye mereka nanti ngomongnya apa.”
“Ah, kalo saya sih ya, jujur aja, udah nentuin pilihan langsung, pasti SBY.”
(Alarm berhenti, lumayan lega denger jawabannya.)
“Ya habis yang laen tuh ya, Prabowo dan Wiranto kan militer, bakal kacau jadinya.”

Tepat hari itu baru dikeluarkan pengumuman daftar harta cawapres, dengan Prabowo memiliki aset paling banyak sebesar 1.7 triliun rupiah. Si bapak bilang, “Ah nggak mungkin segitu.”
“Lebih banyak ya pak?”
“Ya kurang lahhh” (nadanya menguliahi anak SD) “Coba situ bayangin, kalau diperiksa lagi setahun ke depan dan kekayaannya cuma nambah sedikit, kan ga akan dicurigai, padahal sebenarnya lebih banyak tapi nggak kelihatan.”
Dan dia memberikan analogi karung yang seolah-olah gembung tapi isinya udara–saat karung itu benar-benar diisi emas, orang tak akan curiga.
“Menurut saya, asetnya yang saham itu juga tidak benar… pasti dia mbantu pengusaha terus dikasih saham kosong, begitu…”

Saat ini kecurigaan sudah berubah menjadi keheranan dan kekaguman pada si bapak supir taksi.

“Coba saya tanya, situ kerjanya di bidang apa?”
“Properti pak.”
“Nah coba pikir, kalau situ ada proyek bagus, terus JK yang pengusaha mau juga, dia bisa pakai kekuatan militer buat ambil dari tangan situ. Kan jadi situ yang rugi.”
“Ya iklan boleh bilang dia bantu rakyat kecil, tapi buktinya mana, malah kekayaannya yang nambah.”

Aku manggut-manggut. Mengiyakan. Sepanjang jalan, sepanjang 45 menit kemacetan jam bubar kantor di Jakarta, aku mendengarkan, manggut-manggut, dan belajar banyak tentang politik militer Indonesia.
Dari seorang supir taksi sederhana.
Yang ketajaman pikiran dan kehausan akan pengetahuannya lebih dalam daripada kebanyakan orang bergelar sarjana yang kukenal. Yang kecintaannya pada bangsa tidak membuatnya berpahit-pahit dalam kesulitan hidup. Yang dalam pekerjaannya mencari nafkah, membuat perubahan dalam hidup orang-orang yang ditemuinya. Salah satunya, aku.

Aku menanyakan namanya, kalaupun tidak akan pernah bertemu lagi, setidaknya untuk disimpan dalam hati.

Di manapun bapak sekarang, pak, semoga Tuhan pelihara selalu. Mari sama-sama berdoa semoga presiden baru nanti bisa membawa Indonesia lebih baik lagi.

Sleeping with books

No books, no soft toys.

(You guessed right… this post has nothing whatsoever to do with caterpillars)

Is what the my surgeon told me. After my sinus surgery, it is imperative that I live in a very controlled environment–no stray dust or mold or mites can be allowed. In the olden days before Kindle, I would have squirmed and protested. No books on my desk? No books on my bedside table? No BOOKS? I can’t imagine a bedroom without books. Those who know me well know that books have a tendency to appear and accummulate in my bedroom. Over the course of any one week a half dozen books seem to have teleported themselves to my room.

So you can imagine my chagrin when I was told I was to live in a bedroom without books. That is, if I hadn’t had my Kindle :)

With Kindle now on my bedside table, it’s like sleeping with piles and piles of books in the room, with barely enough space for the bed. Imagine a heavily-curtained reading room, Victorian style, with big heavy books in tall wooden armoires, and me cuddled with a blanket in the middle of the books. Only, there are no books. Just one Kindle.

Someone has to tell Jeff Bezos that this is another accomplishment to be written on Kindle’s FAQ: Sinusitis-safe, rhinitis-safe, recommended for post-septoplasty-turbinoplasty-surgery care.

I’m not saying anything about the girls being underage or not, but here are the hard facts I know:

  • My grandfather (who was born in China and later immigrated to Indonesia) didn’t know his own birthday, not even the year he was born–I don’t believe the Chinese bureaucratic system has changed that much to allow for perfect accuracy in signing birth certificates and stuff.
  • My aunt is 5′ and 77 lbs. She had given birth to two sons.
  • Asian girls tend to have menstruation later in life than American girls (I think it’s something in the American diet of fried chicken, burger, and frozen meals that affect Americans’ growth hormones) thus they still grow taller even after they’re 16 years old.
  • Asian people look younger than their actual age if judged base on Western standards. I’m 26 and people still ask me whether I’m a junior or a senior in college.

Discovery channel has a coverage about Chinese school for gymnasts: the school doesn’t accept kids over 4 years old, and they trained them for a year before determining whether or not they have ‘promising’ talent. The untalented ones get thrown out, and their parents said goodbye to the tuition fee. So 5-year-old kids are trained ruthlessly, 24/7, their bones and muscles twisted and bent and turned and trained in such a way that they almost always cry in pain; they go on in this fashion for 10 or so excruciating years…to win gold medals in the Olympic Games. And along with their gold medals, $100K and lifelong support for their family from the government. Should we criticize and demean this way of life by accusing them for being underage?

Kalau orang Indonesia belum bisa (eksplorasi migas), biarin aja minyaknya diem dalam tanah!

Kwik Kian Gie, sebagaimana dikutip oleh Chatib Basri (tangan kanan Dr. Sri Mulyani, Menkeu Republik Indonesia) (maafkan untuk segala kesalahan dalam penulisan nama)

Kalau Indonesia masih sebegitu primitifnya, untuk selalu mencurigai setiap kucuran modal asing yang masuk, ngga heran negara tercinta ini ngga maju-maju… Exxon, BP, Itochu… bukan berarti perusahaan multinasional hanya memiliki motif mulia untuk melakukan eksplorasi di negara dunia ketiga. Ledakan pipa gas di Afrika (Shell), corporate IRresponsibility, dll. Tapi sikap seperti itu, bukankah termasuk fundamentalisme? Kesempitan pikiran, harga diri yang mengarah pada arogansi.

Tapi dunia semakin rata (mengutip Thomas Friedman), globalisasi membawa semua orang sebagai individual memiliki kekuatan untuk bersuara, berkreasi, dan mensabotase.

Siapa sebenarnya warganegara Indonesia? Pendatang dengan hati yang mencintai dan ingin memajukan Indonesia, ataukah anak bangsa yang dididik di luar negeri dan tidak lagi mencintai tanah air? Jawabannya terserah Anda. Toh di dunia global sekarang ini, kita semua adalah warganegara DUNIA.

Death catches up

Death marches with Time, its shadows lengthening with each year that we pass.

The first experience of Death might be a great grandparent–as young children, we don’t notice the details. It just happened: they just passed away. They simply are NOT anymore. Life is too full of other things to learn, too full of pretty things, Death is just a mere nightmare for children.

By our second experience of Death, it’s starting to flex its grip on us. We accompany a loved one through stages of Death: sickness, hospitalization, episodes of goodbyes, and the end. It started to dawn on us that death is a reality, and it’s ugly. But deep down we still think that Death is still a long way away. In our 20s or 30s, our health is a good distraction, banishing the shadows of Death to a corner.

By adulthood, Death plays a game of catch-up with Time: one-by-one, like leaves falling in the autumn, we see our friends leaving us, and Death intimately shares with us its darkness. And we begin to expect it to come down on us anytime.

When the time comes, how will I cope with Death?

Some go in and come back out / Some go in to stay for a while / Some go in and come out incomplete / Yet others / They go in to pass to the other Side

“Hospital”

Older Posts »